Model
Berita DaerahNasional

FASI XIII Sumut: Qur’ani, Kebangsaan, dan Jejak Kontribusi lintas agama dalam Peradaban Islam

48
×

FASI XIII Sumut: Qur’ani, Kebangsaan, dan Jejak Kontribusi lintas agama dalam Peradaban Islam

Sebarkan artikel ini

 

Pematangsiantar, BNFNEWS — Salah satu Mantan
Ketua Umum DPD BKPRMI Kota Pematangsiantar priode 2000 – 2005 yang biasanya di Panggil Imran Simanjuntak mengatakan
Kota Siantar akan menjadi tuan rumah Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) XIII Tingkat Sumatera Utara pada 20–24 Juni 2026.

“Ajang ini bukan sekadar perlombaan Islami, melainkan instrumen
kebangsaan yang mempertemukan nilai Qur’ani dengan semangat kebersamaan lintas agama yang
berada dalam satu bangsa dan tatanan pemerintah.

Ia juga menambahkan Kehadiran Ibu Liswati Wesli Silalahi Istri Walikota
Pematangsiantar sebagai Ketua Panitia Festival Anak Sholeh Indonesia ( FASI ke XIII ) SUMUT
menegaskan bahwa pembangunan anak anak Islam adalah bagian dari pembangunan bangsa.

1) Islam menegaskan pentingnya kerja sama lintas agama, lintas suku dalam kebaikan: “Tolong-
menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Maidah:

2) Maknanya adalah perintah universal
untuk membangun kerja sama yang membawa manfaat sosial dan spiritual, sekaligus larangan keras
untuk mendukung keburukan.

Ayat ini menegaskan bahwa Islam bukan hanya agama ritual, tetapi juga
sistem etika sosial yang mendorong umat untuk menjadi pelopor kebaikan dan penjaga moral masyarakat.

Di ayat yang lain Allah juga mengatakan “Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13) Makna Utama Ayat ini adalah Keragaman sebagai
sunnatullah, Allah menciptakan manusia dengan perbedaan suku, bangsa, bahasa, dan budaya sebagai
bagian dari kehendak-Nya.Tujuan perbedaan adalah ta’aruf (saling mengenal): bukan untuk saling
merendahkan atau bermusuhan, melainkan untuk membangun komunikasi, kerja sama, dan
persaudaraan.

Ukuran kemuliaan bukan suku atau bangsa: melainkan takwa. Ayat ini menegaskan bahwa
identitas sosial hanyalah sarana, bukan penentu derajat di sisi Allah.Maka kerja sama dalam kebaikan
tidak dibatasi oleh agama.
Belajar dari sejarah Kontribusi lintas agama dalam Peradaban Islam cukup luas, semisal diantaranya
Friedrich Silaban seorang arsitek yang beragama Nasrani sebagai perancang Masjid Istiqlal Jakarta,
masjid terbesar di Asia Tenggara. Ia mempelajari tata cara ibadah Islam agar desain sesuai syariat.

Masjid ini berdiri berdampingan dengan Gereja Katedral, menjadi simbol toleransi nasional. Kemudian
penerjemahan Ilmu – Nestorian & Suryani. Pada masa Abbasiyah, sarjana Kristen Nestorian
menerjemahkan karya Aristoteles, Plato, dan Galenus dari Yunani ke Suryani lalu ke Arab.

Mereka
berperan di Baitul Hikmah Baghdad dan Akademi Gundeshapur, melahirkan tradisi filsafat Islam yang
memengaruhi Al-Farabi, Ibn Sina, dan Al-Kindi. Dalam bidang kedokteran, banyak dokter pribadi khalifah
Abbasiyah berasal dari komunitas Kristen.

Keahlian mereka dalam kedokteran Yunani-Romawi
memperkuat tradisi medis Islam, yang kemudian diwariskan ke Eropa melalui Andalusia. Dalam bidang
Teologi Yohanes dari Damaskus Tokoh Kristen Ortodoks Suriah yang hidup di bawah pemerintahan
Umayyah. Ia menulis karya teologi dan filsafat yang berdialog dengan Islam awal, memperkaya tradisi
intelektual di Timur Tengah. Dalam kebangkitan modern Pada abad ke-19, pemikir Kristen Arab seperti
Jurj Zaidan dan Butrus al-Bustani memimpin gerakan kebangkitan intelektual Arab (Nahda). Mereka
memperkuat literasi, pers, dan pendidikan yang memberi manfaat besar bagi umat Islam.

Relevansi dengan FASI XIII Yakni kehadiran Ibu Liswati Wesly Silalahi dalam prespektif esensialitas
agama selaku Ketua Panitia FASI XIII di Pematangsiantar adalah kelanjutan tradisi peradaban Islam yang
terbuka terhadap kontribusi lintas iman.

Sama seperti Masjid Istiqlal yang dirancang oleh seorang Kristen,
FASI menjadi simbol bahwa pembangunan Islam adalah bagian dari pembangunan bangsa.

Dari gambaran ini dapat kita lihat Kontribusi umat Kristen dalam peradaban Islam sangat luas: dari
arsitektur masjid, penerjemahan ilmu pengetahuan, kedokteran, hingga gerakan kebangkitan Arab
modern.

Fakta ini menunjukkan bahwa Islam tumbuh melalui sinergi lintas iman, sesuai dengan prinsip
Qur’an: “Tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa” (QS. Al-Maidah: 2).
FASI XIII Sumut di Pematangsiantar adalah bukti nyata bahwa tradisi itu masih hidup: festival Qur’ani yang
dipimpin Ibu Walikota menjadi instrumen kebangsaan untuk membangun generasi Qur’ani sekaligus
bangsa yang beradab, damai, dan berdaya saing. Sebagai Ibu Walikota Ia tidak memimpin ritual, tetapi

memastikan festival Qur’ani lancar, aman, dan penuh semangat. Kehadirannya adalah kelanjutan tradisi
peradaban Islam yang terbuka terhadap kontribusi lintas iman.
Menjadi Ketua Panitia FASI XIII Sumut di Pematangsiantar bagi Ibu Walikota bukanlah sekadar peran
sosial, melainkan tugas kenegaraan. Hal ini mengandung beberapa makna penting, Representasi Negara
Kehadiran Ibu Walikota sebagai ketua panitia adalah simbol bahwa negara hadir dalam pembinaan
generasi Qur’ani. Ia mewakili pemerintah daerah untuk memastikan festival berjalan dengan legitimasi
resmi, sehingga FASI tidak hanya dipandang sebagai kegiatan komunitas, tetapi sebagai bagian dari
agenda pembangunan bangsa.

Dari sini hadir legitimasi moral dan politik, Dengan pejabat daerah
memimpin kepanitiaan, FASI memperoleh legitimasi moral dan politik. Ini menegaskan bahwa pembinaan
anak-anak adalah prioritas kenegaraan, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 yang menekankan
pembangunan manusia berakhlak mulia. Perwujudan tanggung jawab sosial negara, Negara
berkewajiban membina generasi muda. FASI menjadi sarana strategis untuk memastikan anak-anak
tumbuh dengan nilai Qur’ani, sekaligus dalam suasana kebangsaan yang inklusif. Dengan demikian,
kepanitiaan lintas iman adalah bagian dari tanggung jawab sosial negara untuk menjaga persatuan. Ujarnya (Al/red)