Berita DaerahNasional

Polemik Dengan Media, Warkum Kepala SMAN 1 Dolok Batu Nanggar Klarifikasi “Hormati Pers dan Utamakan Etika Komunikasi”

119
×

Polemik Dengan Media, Warkum Kepala SMAN 1 Dolok Batu Nanggar Klarifikasi “Hormati Pers dan Utamakan Etika Komunikasi”

Sebarkan artikel ini

 

SIMALUNGUN, BNFNEWS – Kepala SMA Negeri 1 Dolok Batu Nanggar, Warkum, S.Pd, memberikan klarifikasi atas pemberitaan yang menarasikan dirinya telah menghina atau merendahkan profesi wartawan.

Warkum menegaskan bahwa dirinya tidak pernah bermaksud menghina pers maupun menghalangi tugas jurnalistik. Ia menyatakan tetap menghormati media sebagai bagian dari fungsi kontrol sosial dan keterbukaan informasi publik.

“Benar ada komunikasi melalui WhatsApp dengan bahasa tersebut. Tetapi konteks percakapannya harus dilihat secara utuh. Sebelumnya, pada Juni 2026, saya sudah menerima dan berdiskusi dengan beberapa rekan media. Prinsip saya adalah saling menghargai,” ujar Warkum
Persoalan parkir dan batas kewenangan sekolah

Terkait persoalan parkir yang menjadi salah satu sorotan pemberitaan, Warkum menjelaskan bahwa lokasi yang digunakan siswa untuk parkir berada pada lahan masyarakat di luar lingkungan sekolah.

Dalam komunikasi WhatsApp yang menjadi bagian dari klarifikasi, Warkum menyampaikan:

“Urusan penggunaan jalan di lahan parkir bukan urusan kepala sekolah. Sekolah punya batas tembok itu”
Warkum menyampaikan penjelasan  dimaksudkan untuk mempertegas batas kewenangan sekolah. Persoalan mengenai penggunaan lahan dan pengaturan parkir di luar lingkungan sekolah, menurutnya “perlu dikonfirmasi kepada pihak yang memiliki kewenangan”

“Kalau mengenai parkir, silakan dikonfirmasi kepada masyarakat yang berkaitan dengan lahan tersebut maupun instansi yang berwenang. Saya sudah menyampaikan hal itu kepada beberapa rekan media,” jelasnya.

Hormati Kemerdekaan Pers
Warkum menegaskan bahwa dirinya memahami dan menghormati kemerdekaan pers sebagaimana diatur dalam UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Menurutnya, media memiliki ruang untuk melakukan konfirmasi dan kontrol sosial, sementara pihak sekolah sebagai narasumber juga memiliki hak untuk memberikan penjelasan, klarifikasi maupun koreksi terhadap informasi yang berkaitan dengan institusinya.

Ia berharap perbedaan dalam proses komunikasi tidak berkembang menjadi kesimpulan bahwa pihak sekolah anti terhadap pers
Silakan media melakukan konfirmasi “Saya tidak pernah menutup pintu untuk pers. Yang saya harapkan hanya komunikasi dilakukan dengan baik dan profesional,” katanya.

“Tamu Datang dengan Sopan, Saya Pun Segan”

Dalam menyampaikan sikapnya, Warkum menggunakan sebuah prinsip sederhana:

“Tamu datang dengan sopan, saya pun segan”
Menurutnya, pernyataan tersebut bukan bentuk penolakan terhadap wartawan, melainkan ajakan untuk membangun komunikasi yang saling menghormati.

Ia juga menjelaskan bahwa sekolah memiliki mekanisme komunikasi melalui Humas apabila dirinya sedang tidak berada di sekolah.

“Kalau saya tidak berada di sekolah, silakan disampaikan melalui Humas. Itu bagian dari mekanisme sekolah. Saya tetap terbuka menerima informasi, kritik dan konfirmasi dari media maupun masyarakat,” ujarnya
Masih Baru Menjabat, Pilih Kolaborasi

Warkum menyampaikan bahwa dirinya masih relatif baru menjabat sebagai kepala sekolah dan masih melakukan penyesuaian dengan lingkungan sekolah maupun masyarakat sekitar.

Karena itu, ia memilih membangun komunikasi dan kolaborasi dengan seluruh stakeholder pendidikan.

“Saya masih baru menjabat dan masih menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Harapan saya, media, masyarakat, guru, orang tua dan pemerintah dapat bersama-sama berkolaborasi meningkatkan mutu pendidikan,” ungkapnya
Menurut Warkum, kritik merupakan bagian penting dalam proses evaluasi. Namun, kritik akan lebih konstruktif apabila disampaikan berdasarkan data, konfirmasi dan informasi yang berimbang

Klarifikasi Bukan Penutupan Akses Informasi
Warkum menegaskan bahwa klarifikasi yang disampaikannya bukan bertujuan membatasi kerja pers, tetapi memberikan perspektif dari pihak sekolah agar pemberitaan mengenai persoalan tersebut tidak hanya dilihat dari satu sisi.

Ia juga berharap setiap persoalan dapat diselesaikan melalui komunikasi yang profesional dan mekanisme yang sesuai dengan ketentuan pers
“Kalau ada kekurangan, silakan dikritik. Kalau ada informasi yang perlu dikonfirmasi, kami layani. Yang penting kita sama-sama menjaga etika dan kepentingan pendidikan,” tegasnya.

Warkum kembali menegaskan bahwa dirinya menghormati profesi wartawan dan tidak bermaksud menghina dunia pers.

Pers tetap dihormati, kritik tetap diterima, akses komunikasi tetap dibuka. Yang diharapkan Warkum adalah satu hal: setiap komunikasi berjalan profesional, saling menghargai dan tetap berada dalam koridor hukum
Laporan  : (Red)